ELIF SAFAK: “EMPAT PULUH KAIDAH CINTA” SANG DARWIS PENGELANA
Review novel Empat Puluh Kaidah Cinta karya Elif Safak
The Forty Rules of Love” (Empat Puluh Kaidah Cinta), adalah salah satu novel yang ditulis oleh Elif Safak, seorang penulis wanita Turki kelahiran Prancis dengan Turki’s bestselling(Penjualan terbaik)-nya.
Dalam novel “Empat Puluh Kaidah Cinta”, Elif Safak mengisahkan dua jalinan cerita dengan dua latar belakang yang berbeda: kehidupan Ella Rubinstein, seorang ibu tiga anak yang tidak bahagia dengan pernikahannya, serta kisah perjumpaan yang mengubah tiga ratus enam puluh derajat kehidupan dua tokoh dari abad ke-13, Jalaluddin Rumi—ulama konvensional menjadi penyair mistik penuh semangat yang karyanya dikenal oleh para penyair dunia hingga saat ini, penganjur cinta, dan perintis tarian ekstatis darwis yang berpusar-pusar—dan Syamz dari Tabriz—darwis pengelana.
Ella yang acuh tak acuh dengan keluarganya, bahkan ia meragukan akan adanya cinta, perlahan mulai mengalami perubahan dalam dirinya ketika ia membaca sebuah naskah novel karya Aziz Zahara berjudul “Sweet Blasphemy” yang ia terima dari suatu agen di Boston. Empat puluh kaidah cinta yang menjadi prinsip dan pegangan kehidupan Syamz, perjuangan Syamz dan Rumi untuk menemukan belahan jiwa yang akan mengisi kehidupan masing-masing, menyadarkan Ella. Seakan Aziz sang penulis novel kisah kehidupan kedua tokoh—Syamz dan Rumi—yang mirip dengan cerminan kehidupan Ella tersebut, memang ditakdirkan untuk datang untuk mengubah hidupnya.
Novel “Empat Puluh Kaidah Cinta” ini, sungguh akan menyentuh hati setiap orang yang membacanya. Novel ini memperlihatkan kepada kita kaidah dan kisah cinta yang sesungguhnya. Dan dengan sendirinya kita yang awalnya masih bingung atau salah paham mengenai sejatinya cinta, akan menjadi seorang pengagum cinta.
Tak hanya itu, penggambaran tokoh utama dari pandangan karakter yang berbeda, Syamz yang digambarkan berdasarkan penilaian seorang darwis pemula, sang guru, pengemis, pemabuk, ataupun yang lainnya. Maupun Rumi yang digambarkan oleh seorang pengemis, pemabuk, si fanatik, dan yang lainnya, menjadi daya tarik tersendiri bagi novel “Empat Kaidah Cinta” yang ditulis oleh Elif Safak ini. Bahkan alur cerita dalam novel tersebut dibagi kepada beberapa bab yang setiap bab diberikan judul mewakili suatu elemen, yang mana elemen-elemen tersebut mewakili penggambaran suasana cerita. Seperti bab api yang menggambarkan alur cerita yang penuh dengan kemarahan dan sebagainya, ataupun bab air yang menggambarkan ketenangan, dan bab-bab lainnya, yang akan membangkitkan gairah para pembaca untuk terus membaca kisah tersebut tanpa ada sepotong pun cerita yang terlewatkan. []
Repost tulisan saya di Grazera

Komentar
Posting Komentar